" />

AGRIBISNIS

Awal Sukses Masa Depan Anda

Persepsi Masyarakat Lokal terhadap Pengelolaan Kawasan Konservasi Taman Nasional Bukit 12 Provinsi Jambi

Penelitian ini memiliki empat tujuan, yaitu: (1) mengetahui latar kehidupan sosial, ekonomi, dan budaya komunitas Orang Rimba dan masyarakat desa sekitar TNBD, (2) menggali persepsi komunitas Orang Rimba dan masyarakat sekitar TNBD serta pihak-pihak terkait terhadap kawasan konservasi TNBD, (3) menetapkan bentuk partisipasi yang dapat dilakukan oleh berbagai pihak terkait dalam pengelolaan kawasan konservasi TNBD, dan (4) merumuskan peta persoalan yang terjadi antara komunitas Orang Rimba dan berbagai pihak terkait dalam pengelolaan kawasan konservasi TNBD.

Bagi Balai Taman Nasional Bukit Duabelas Provinsi Jambi, penelitian ini bermanfaat sebagai masukan dalam merancang model pengembangan kawasan konservasi yang mampu memberikan peningkatan kesejahteraan masyarakat, sekaligus memelihara kelestarian kawasan TNBD. Selain itu, penelitian ini juga bermanfaat untuk memunculkan gagasan-gagasan baru di tingkat komunitas Orang Rimba dan masyarakat sekitar, sebagai modal untuk membangun kepedulian terhadap kawasan konservasi TNBD.

Penelitian ini menggunakan pendekatan model struktural untuk mengevaluasi persepsi masyarakat terhadap konservasi, mengetahui pengaruh kondisi lingkungan alam, sosial, budaya, dan ekonomi serta mengevaluasi dampak kebijakan yang dapat diambil, baik dampak yang diinginkan maupun dampak yang tidak diinginkan.  Selain itu, untuk mengetahui keterkaitan antar-variabel yang bersifat non-linier akan dipergunakan alat analisis yang mempunyai kemampuan luas sebagai penduga fungsi.      Penelitian dilakukan dengan mengamati dan mewawancarai stakeholders yang terlibat untuk memetakan persoalan yang terjadi, khususnya antara masyarakat lokal, LSM, dan pemerintah. Wawancara diajukan untuk memetakan dan membangun suatu konsep pemahaman (construct) para stakeholders. Model yang dipergunakan adalah Fuzzy Cognitive Map (FCM) untuk memetakan berbagai persepsi para stakeholders. Selain itu, FCM juga dipergunakan untuk mensimulasikan kebijakan yang dapat direkomendasikan.

Kesimpulan

(a) Perlindungan dan Konservasi Kawasan

Konflik perebutan sumber daya alam akan terus ada dan cenderung akan meningkat di masa mendatang. Seiring dengan kecenderungan tersebut, potensi ancaman terhadap keutuhan kawasan akan semakin membesar. Untuk itu perlu membangun kepastian hukum atas batas luar kawasan; membangun pemahaman dan kepedulian masyarakat adat dan lokal atas peran penting kawasan sebagai bagian dari sistem ekologi wilayah; membangun komitmen bersama antarpihak untuk menanggulangi perambahan kawasan dan penebangan liar; membangun infrastruktur, fondasi, dan data base sumber daya alam hayati kawasan; memulihka kondisi lingkungan yang telah mengalami penurunan mutu; membangun sistem pengamanan kawasan yang efektif; membangun kompetensi petugas TNBD; membangun sistem penyelenggaraan pengelolaan terpadu yang memfasilitasi sepenuhna perlindungan dan konservasi kawasan; membangun sistem monitoring dan evaluasi yang tepat dan mengefektifkan pelaksanaannya.

 

(b) Pemanfaatan secara Lestari

Lingkungan alam relatif memiliki kerentanan terhadap tekanan dan pencemaran yang diakibatkan oleh pemanfaatan. Namun jika pemanfaatan dilakukan secara tepat, maka akan memberikan kontribusi positif terhadap perlindungan dan konservasi kawasan. Permasalahannya, bagaimana seharusnya pemanfaatan ditangani agar (1) tidak terjadi saling berebut dalam memanfaatkan sumber daya alam kawasan, (2) sesuai dengan potensi dan karaktristik sumber daya kawasan, (3) beban tekanan tidak melampaui kemampuan daya dukung lingkungan atau batas toleransi perubahan yang dapat diterima, (4) hak untuk mendapatkan keuntungan ekonomi dan sosial terkembalikan secara proporsional kepada semua pihak yang berkepentingan, dan (5) pengorbanan tertanggung yang disebabkan oleh pemanfaatan, terkembalikan secara proporsional bagi kepentingan perlindungan dan konservasi kawasan jangka panjang. Sehubungan dengan penyelenggaraan usaha pelayanan wisata oleh masyarakat, perlu dipahami bahwa pengusaha hendaknya ditangani sebagai sumber penghasilan alternatif, bukan untuk menggantikan kegiatan ekonomi tradisional yang sudah ditekuni selama ini. Hal ini mengingat pariwisata di kawasan ini masih pada tahap memulai dan mengingat pula bahwa kegiatan pariwisata ditengarai oleh fluktuasi musiman dan rentan terhadap gangguan yang bersifat moneter, ketidakstabilan politik, dan keamanan negara, serta wabah penyakit.

 

(c) Pemberdayaan Komunitas Orang Rimba

Berkaitan dengan proses pemberdayaan komunitas ini, masih ada silang pendapat di antara para pihak tentang: kapan waktunya hal-hal atau nilai-nilai dari luar lingkungan Orang Rimba layak diintroduksi; bagaimana caranya; dan sampai seberapa jauh intervensi perlu dilakukan. Untuk menghindari kesimpangsiuran pandangan di antara para pihak, yang pada gilirannya hanya akan merugikan pihak komunitas Orang Rimba itu sendiri, diperlukan kesamaan pikir bahwa: pemberdayaan merupakan suatu proses tanpa ada titik awal yang harus ditunggu ataupun titik ahir yang harus diselesaikan; biarkan semua berkembang, karena tidak ada standar baku untuk mengukur resionalitas dan kesiapan manusia, yang diperlukan adalah kesempatan dan keberdayaan. Proses pemberdayaan komunitas Orang Rimba bertujuan agar Orang Rimba dapat beradaptasi penuh dengan nilai-nilai kehidupan ekonomi dan sosial di luar lingkungannya serta mampu berperan aktif dalam pembangunan. Oleh karena itu perlu dibangun: (1) pemahaman kritis komunitas Orang Rimba terhadap kehidupan nyata di lingkungan sekitarnya agar mampu menghadapi dan menyerap perubahan nilai-nilai sosial ekonom tanpa kehilangan identitas budaya, (2) kemampuan interaksi sosial dan memperjuangkan hak-hak politik, rasa kebersamaan, dan rasa aman, (3) sistem komunikasi pemberdayaan (seperti penemukenalan tokoh masyarakat dan tetua adat Orang Rimba yang mampu menyampaikan pesan-pesan pemberdayaan, pengembangan lembaga ekonomi, dan lembaga adat), (4) dukungan politik bagi komunitas Orang Rimba untuk mengatur diri sendiri dan mengurangi segala bentuk eksploitasi terhadap komunitas ini, (5) rasa kebersamaan masyarakat lokal terhadap komunitas Orang Rimba dan ikut berpartisipasi dalam program pemberdayaannya, (6) kemitraan lintas pihak untuk mendukung penyelenggaraan pemberdayaan kehidupan sosial, ekonomi, dan politik, (7) perangkat kebijakan teknis operasional terpadu yang memfasilitasi pemberdayaan komunitas Orang Rimba, (8) sistem monitoring dan evaluasi yang tepat dan mengefektifkan pelaksanaannya.

 

(d) Pengelolaan Multi Pihak

Sementara ini sudah ada beberapa pihak pemangku kepentingan yang terlibat dalam penyelenggaraan perlindungan dan konservasi kawasan serta penanganan pemberdayaan komunitas Orang Rimba. Namun dalam berbagai hal masih ada ketidakpaduan program, rasa curiga-mencurigai, saling salah menyalahkan dalam penanganan kasus atau konflik dan duplikasi program kegiatan. Kondisi ini dalam kasus tertentu telah berkembang menjadi sumber konflik antarsejumlah pihak. Situasi ini bila dibiarkan akan menimbulkan kondisi yang kurang baik dan mempengaruhi kinerja pihak-pihak dalam menjalankan misinya. Diakui bahwa permasalahan yang terjadi selama ini bersumber dari belum tersedianya suatu rencana strategis menyangkut Pengembangan TNBD dan Pemberdayaan Komunitas Orang Rimba dan diperburuk lagi dengan adanya kesenjangan komunikasi yang berujung pada rasa kecurigaan atas langkah-langkah yang diambil oleh satu dan lain pihak. Pengelolaan multi pihak bertujuan untuk memastikan terselenggaranya koordinasi dan kolaborasi antarmitra strategis melalui wadah aliansi pengelolaan multi pihak. Untuk itu diperlukan kebijakan membangun: (1) kesamaan persepsi dan rasa kebersamaan antarmitra, (2) komitmen bersama untuk saling bekerjasama dan saling mengisi dalam menjalankan misi masing-masing, (3) sistem dan mekanisme informasi dan konsultasi antarmitra, (4) sistem koordinasi dan kolaborasi antarmitra, (5) perangkat kebijakan teknis operasional terpadu yang memfasilitasi penyelenggaraan pengelolaan multi pihak.

 

            Di Provinsi Jambi terdapat suku-suku yang belum berakulturasi dengan masyarakat pasca tradisional, dikenal dengan nama umum suku Kubu, dewasa ini namanya memiliki konotasi yang kurang baik. Masing-masing suku Kubu memiliki mitos sejarah dan budaya yang berbeda. Walaupun mereka diklasifikasikan sebagai hunters and gatherers, lokasi dan lingkungannya berbeda. Mereka tinggal berpindah-pindah dari rawa dekat laut, dataran sampai kaki pegunungan dan pegunungan di Provinsi Jambi. Mereka memakai pola hidup dan mata pencaharian untuk memenuhi kebutuhannya. Kebudayaan mereka selalu dipengaruhi oleh perubahan pola pikir individu dan input perubahan dari luar, artinya budaya orang asing.

Ada beberapa mitos serta sejarah tertulis mengenai asal usul orang Rimba termasuk orang Kubu. Sejarah tertulis pertama ditulis oleh orang Tiongkok, mereka berkunjung ke Sumatera bagian tengah dengan alasan belajar bahasa Sansekerta atau berniaga. Mereka membeli atau tukar barang di hilir sungai. Orang Tiongkok dan orang Barat mengangkut kapalnya dengan barang seperti menyan, beberapa jenis getah, obat alami, dan lain-lain yang diperoleh dari hutan dan pegunungan. Di hulu sungai banyak pecahan porselin ditemukan yang berasal dari Tiongkok. Dari aktivitas tersebut bisa disimpulkan bahwa sejak lama orang Rimba, di samping sebagai hunters and gatherers juga terlibat perniagaan untuk memenuhi kebutuhannya, seperti alat dapur serta pisau dan tombak.

Kelihatannya mereka membayar upeti (tribute) ke kerajaan atau tukar barang kepada pengantar atau pedagang, supaya orang Terang dari hilir sungai tidak perlu masuk dan mengganggu orang Rimba di kawasan tradisional. Menurut pengamatan seorang eksplorir pertama dari Eropa, orang Rimba digambarkan sebagai orang yang tanpa dosa dan kebudayaannya yang unik. Memang kebudayaan dan kosmologi sangat berbeda. Walaupun kelihatannya struktur masyarakat sederhana, kebutuhan mereka dipenuhi setidaknya selama 6 sampai 10 generasi, atau sekitar 300 sampai 500 tahun, menurut sejarah lisan orang Rimba.

            Masyarakat Rimba menganut sistem kekerabatan matrilineal dan pologini. Matrilineal, artinya saudara perempuan tinggal bersama di kelompok orang tua dan saudara laki-laki harus ikut kelompok isterinya.  Pologini artinya suaminya boleh mempunyai hubungan dengan beberapa istri Alasannya perempuan subur, mandul, dan janda harus dilindungi sebagai sumber hidup. Kelihatannya tanggung jawab laki-laki berat dan pada tingkat harapan hidup laki-laki lebih rendah dibandingkan dengan perempuan.

Dampak perubahan zaman sekarang terhadap kebudayaan mereka sangat besar, dewasa ini lingkungan tradisionalnya semakin lama semakin sempit oleh penebangan dan perkebunan. Akan tetapi mereka tetap bertekad mengikuti aturan dan budaya yang diwariskan dari nenek moyangnya.        Program transmigrasi, menebang hutan serta memburu fauna dan mengambil flora oleh orang Terang, berdampak negatif pada kebudayaan orang Rimba. Akan tetapi orang Rimba sudah beradaptasi supaya bertahan pada masa depan. Orang Rimba sudah mengambil getah pohon karet dan berencana kultivasi kelapa sawit, untuk menaikkan penghasilan. Mereka beradaptasi kembar kultur.  Menurut Motto Indonesia: “Bhinneka Tunggal Ika”, artinya berbeda beda tetapi tetap satu juga, membolehkan diversitas tetapi kelihatannya tidak selalu terjadi dan nilai-nilai mereka tidak selalu dihormati.

            Orang Rimba mengalami kesulitan untuk bertahan dalam lingkungan yang muncul dari interaksi dengan para pendatang.  Transmigran menggunakan tanah tradisional orang Rimba tanpa memperhatikan kelangsungan hidup orang Rimba yang selama ini nomaden, yang mencari sumber kehidupan dengan mengandalkan hutan.  Kebudayaan orang Rimba kurang dihormati dan dihargai.  Sepatutnya pendatang yang selama ini menggunakan tanah tradisional orang Rimba memberikan sesuatu ganti-rugi. Salah satu jalurnya adalah orang Rimba mendapat ilmu (knowledge) yang relevan dan sesuai dengan keinginannya untuk bertahan di lingkungan pasca tradisional. Artinya pendidikan yang sesuai dengan budaya nomaden, dengan kurikulum terfokus mengenai kehidupan mereka di hutan dan materi pelajaran yang lebih sesuai dengan orang Rimba untuk mengatasi masalah hubungan dengan orang luar. 

Lebih cocok ilmu budaya orang Rimba, orang Batin Sembilan dan suku lain dimasukkan dalam pelajaran di pendidikan supaya seluruh kekayaan budaya Indonesia dihormati, sesuai dengan motto Indonesia “Bhinneka Tunggal Ika”, atau berbeda beda tetapi tetap satu juga.  Semua suku perlu habitat atau lingkungan yang cukup aman, tetapi

kelihatannya tidak ada cukup input orang Rimba mengenai lingkungan mereka. Misalnya, sangat penting bagi pemerintah sebelum mengubah lingkungan untuk mendapat persepsi dari orang Rimba mengenai tanah nasional. Melakukan interaksi itu adalah satu hal yang sangat positif. 

Nampaknya dampak kerusakan habitat oleh orang Rimba tidak signifikan, tetapi dampak HPH, transmigrasi, pembangunan perkebunan besar perlu pengawasan yang lebih ketat. Suku tradisional perlu sertifikat otentik sama dengan yang diterima oleh perusahaan, maupun individu luar supaya tidak ada kesalahpahaman mengenai batasan tanah. Hak sipil, adat atau HAM belum cukup dihormati terhadap orang Rimba oleh orang luar. Orang Rimba jarang mendapat harga yang sesuai atau seimbang dengan harga pasar. Sebenarnya, memberi nasihat kepada orang Rimba mengenai harga pasar akan dihargai, supaya mereka tidak merasa ditipu.  Orang Rimba ingin bekas tanah HPH dikembalikan, supaya tanah itu digunakan sebagai ganti rugi hutan yang ditebang liar, supaya bisa ditanami karet.

            Orang Rimba membangun ilmu mengenai hutannya yang lebih maju dibandingkan dengan orang luar. Di sini merupakan kesempatan untuk melakukan program kerjasama antara orang luar dengan orang Rimba. Menyalahgunakan kesempatan ini akan merugikan manusia selama-lamanya.

 

 

 

 

 

 

 

 

Members Area

PENGUNJUNG






KAMPUS KEBANGSAAN


KISAH AGRIBISNIS SUKSES

JURNAL AGROS

Jurnal Ilmiah Ilmu Pertanian "AGROS" merupakan jurnal yang diterbitkan oleh Penerbit Fakultas Pertanian. Untuk melihat lebih lengkap, silahkan klik gambar atau klik di sini)



LINK

 

No recent videos

Recent Forum Posts

Upcoming Events