" />

AGRIBISNIS

Awal Sukses Masa Depan Anda

@

BUDIDAYA SIKAS NAGA Cantik peluang budidaya tanaman purba

Posted on October 12, 2013 at 11:30 AM

Para pecinta tanaman hias tentu tak asing dengan sikas naga. Tanaman bernama latin Cycas affinity rumphii ini mirip pakis. Daunnya yang berwarna hijau menyerupai bulu, tumbuh mengarah ke luar dari batang. Adapun, bentuk batangnya unik, karena ditutupi sisik-sisik berwarna cokelat, layaknya sisik naga. Makanya, di Indonesia, tanaman ini biasa disebut Sikas Naga.

 

Karena keelokan dan keunikan rupanya, banyak pecinta tanaman yang berburu sikas naga. Namun, karena termasuk tanaman purba, stok sikas naga tak banyak tersedia di pasaran. Maklum, budidayanya tak mudah. Keindahan tanaman ini terbentuk dari terpaan alam. Meski begitu, ada yang sudah mulai membudidayakan sikas naga.

Salah satunya, Andi Marthen, pemilik Belantara Nursery di Bogor, Jawa Barat. Ia sudah membudidayakan sikas naga sejak 2008. Menurutnya, permintaan sikas naga cukup tinggi. Awalnya, ia mengambil sikas naga dari habitat aslinya di Pulau Lihukang, Sulawesi Selatan. "Saya ambil sekitar 100 pohon, lalu dibudidayakan di Bogor," tuturnya.

 

Pria 41 tahun ini mengklaim, pohon sikas naga yang diambil dari Pulau Lihukang sudah berusia lebih dari 100 tahun. Ukurannya sekitar satu meter. Namun harganya bisa sampai Rp 10 juta.

 

Nah, untuk memperbanyak tanaman, Andi mengembangbiakkan melalui biji. Saat sikas naga berumur 100 tahun, tanaman ini mulai berbuah. Dari buahnya bisa diambil biji untuk ditanam, sehingga menghasilkan bibit. "Karena sekarang indukan tinggal dua pohon, saya hanya jual bibit," ujarnya.

 

Andi menjual bibit sikas naga setinggi 5 cm-7 cm berkisar antara Rp 500.000-Rp 700.000 per bibit. Ia mengaku, kewalahan memenuhi permintaan. Pasalnya, siklus pertumbuhan sikas naga tergolong lambat. Dalam setahun, tanaman ini hanya bisa tumbuh sekitar 1 centimeter (cm).

Ia dapat menjual 15 - 20 bibit sikas per bulan. Omzetnya mencapai Rp 12 juta sebulan.

 

Penjual sikas naga di Indramayu, Dedy Soedarmanto menilai, tanaman ini digemari lantaran bentuknya bagus dan eksotik.

 

Pemilik Wijaya Puspana Flowers ini biasa mengambil sikas naga dari kawasan Kuningan, Jawa barat. Sebelum dijual, ia merawatnya lebih dulu. Sebab, semakin unik bentuknya, dan semakin besar, otomatis semakin tinggi harga jualnya.

 

Biasanya, Dedy melego tanaman ini saat sudah mencapai tinggi 1 meter hingga 1,5 meter. Harganya berkisar Rp 3 juta hingga Rp 6 juta per pohon.

Namun, karena pertumbuhannya lambat, Dedy terkendala pasokan. Dalam setahun ia hanya bisa melego 15 pohon, dengan omzet sekitar Rp 45 juta-Rp 90 juta per tahun. Namun, laba bersihnya lebih dari 50%.

Sikas naga tergolong tanaman yang bandel. Tanaman bernama latin Cycas affinity rumphii ini relatif tahan di berbagai cuaca dan tak butuh perawatan terlalu banyak.

 

Meski pun habitat aslinya dari daerah pantai, sikas naga juga berkembang baik di daerah dataran tinggi. "Saya pernah menanam sikas naga di Bandung, hasilnya juga tetap bagus," kata Andi Marthen (41), pemilik Belantara Nursery di Bogor, Jawa Barat.

 

Hal tersebut dibenarkan Dedy Soedarmanto, pemilik Wijaya Puspana Flower di Indramayu, Jawa Barat. Menurutnya, sikas naga tergolong tanaman yang mudah beradaptasi dengan berbagai jenis lingkungan dan kondisi cuaca. "Tanaman ini tidak rewel dan kemampuan beradaptasinya tinggi," ujar Dedy.

 

Satu saja kelemahannya, yakni masa pertumbuhannya yang sangat lambat. Dalam satu tahun, tanaman ini hanya bisa tumbuh sekitar 1 centimeter (cm). Itu juga yang membuat stok tanaman ini terbatas di pasaran.

 

Perbanyakan tanaman sikas naga bisa dilakukan dari biji. Andi bilang, ukuran biji sikas naga sebesar kelereng. Setelah biji disemai dan daun mulai tumbuh, bibit dipindah ke media tanam. "Medianya merupakan campuran tanah dan pupuk kandang, dan media tanam jangan kena air," ujarnya.

 

Jika bukan dikembangkan dari biji, misalnya mengambil dari alam aslinya dan dipindahkan ke lingkungan yang berbeda, memang perlu perlakuan masa adaptasi. Tujuannya agar bisa menyesuaikan dengan iklim baru.

 

Dedy mengaku, kerap mengambil sikas naga dari kawasan Kuningan, Jawa Barat dengan lingkungan berkapur. Setelah dibawa ke wilayah Indramayu, sikas naga perlu adaptasi selama satu hingga dua minggu. "Jika baru diambil dari alam, kami melakukan masa adaptasi dengan membuat media tanam yang menyerupai dengan kondisi tanah di alam aslinya," ujar Dedy.

 

Caranya, dengan menaruh pohon sikas pada media khusus, yakni sebuah karung dengan media tanah dicampur kandungan kapur cukup tinggi. Di media tanam buatan itu, tanaman dibiarkan sampai muncul tunas dan akar. "Itu berarti dia sudah bisa beradaptasi di lingkungan baru," jelas Dedy.

 

Meski tahan terhadap segala cuaca, sikas naga jauh lebih baik ditanam di tempat daerah dataran rendah dengan iklim kering. Sikas naga juga tidak boleh terkena terik matahari langsung. Pasalnya, sinar matahari bisa menghambat pertumbuhan tanaman purba ini.

 

Makanya, disarankan menanam sikas di tempat terlindung. Untuk perawatan, bisa diberikan pupuk tiga bulan sekali. Untuk penyiraman tidak perlu dilakukan setiap hari. "Cukup tiga hari sekali," ujarnya. (Selesai) http://www.kontan.co.id


Categories: None

Post a Comment

Oops!

Oops, you forgot something.

Oops!

The words you entered did not match the given text. Please try again.

Already a member? Sign In

2 Comments

Reply sulistyo
10:09 AM on December 10, 2016 
ati says...
klo daun sudah ada bintik kuning
dan bakal daun (bonggol) sudah mulai tumbuh...tp masih pendek..apakah bisa dipotong daun2 yg sudah tua?

bisa mas
Reply ati
5:07 AM on March 16, 2014 
klo daun sudah ada bintik kuning
dan bakal daun (bonggol) sudah mulai tumbuh...tp masih pendek..apakah bisa dipotong daun2 yg sudah tua?