" />

AGRIBISNIS

Awal Sukses Masa Depan Anda

@

BUDIDAYA KEDONDONG BANGKOK Meski ukuran mini, labanya tetap maksi

Posted on October 11, 2013 at 11:30 PM

Banyak orang tentu sudah mengenal buah kedondong. Maklumlah, sejak lama buah yang rasanya asam ini diolah menjadi aneka panganan, seperti rujak, manisan dan asinan.

 

Tak heran, tanaman buah yang tergolong dalam suku mangga-manggaan (Anacardiaceae) ini populer di Indonesia. Sebagai tanaman tropis, kedondong juga banyak ditemukan di berbagai daerah di Indonesia.

 

Seperti buah lainnya, kedondong juga memiliki banyak varian. Salah satunya adalah kedondong bangkok yang merupakan varietas unggul tanaman kedondong. Buah kedondong bangkok memiliki daging lebih tebal dan bijinya tidak berserat. Sementara ukuran buahnya lebih kecil dari kedondong biasa.

Kedondong jenis ini cocok juga ditanam di pot sebagai tanaman hias. "Biji buah kedondong bengkok tidak berserat sehingga lebih dipilih untuk bahan makanan," kata Tulen Solahuddin, pengelola usaha Pohon Buah Nursery asal Bogor, Jawa Barat.

 

Tulen membudidayakan kedondong bangkok selama dua tahun terakhir di atas lahan seluas 7.000 meter persegi (m²). Meski buah kedondong bangkok banyak peminatnya, Tulen lebih memilih fokus menjual bibit. Menurutnya, permintaan bibit kedondong bangkok juga tinggi di pasaran. "Kebanyakan buat tanaman hias" katanya.

Jika ditanam di pot dan rajin dipangkas, kedondong bangkok tidak tumbuh terlalu tinggi seperti tanaman kedondong pada umumnya.

 

Selain buahnya punya banyak kelebihan, kedondong bangkok juga menarik dijadikan tanaman hias karena bentuk daun dan batangnya lebih lebar, sehingga terkesan lebih unik.

 

Tulen memasarkan bibit kedondong bangkok dengan ketinggian 60 centimeter (cm). Harganya dibanderol Rp 50.000 per batang. Dalam sebulan, ia bisa menjual sebanyak 200 - 300 bibit kedondong bangkok, dengan omzet mencapai Rp 10 juta - Rp 15 juta. Konsumennya tersebar mulai dari Surabaya, Banda Aceh, dan Kalimantan.

 

Pembudidaya lainnya adalah Edy Sumulur, pemilik PT Pusaka Alam Lestari asal Pasuruan, Jawa Timur. Sama dengan Tulen, ia juga fokus menjual bibit. Menurutnya, kedondong bangkok tergolong tanaman hias. Makanya, kata dia, potensi bisnis kedondong bangkok bukan berasal dari buahnya. "Tapi dari bibit pohonnya," ujarnya.

 

Menurutnya, kedondong ini cocok dijadikan tanaman hias karena ukuran buahnya kecil. Menariknya lagi, tanaman ini bisa berbuah sepanjang tahun. “Tanaman mulai berbuah saat berumur enam bulan,” ucapnya.

 

Ia menjual bibit kedondong seharga Rp 75.000 - Rp 100.000 per batang. Omzetnya dalam sebulan mencapai Rp 20 juta.

Budidaya kedondong bangkok bisa dilakukan di pot maupun langsung di tanam di tanah. Bila dijadikan tanaman hias, banyak orang memilih pot sebagai media tanam. Selama pertumbuhannya di pot, tanaman ini harus rajin dipangkas supaya tidak terlalu tinggi.

 

Baik ditanam di pot maupun perkebunan, kedondong bangkok tetap rutin berbuah sepanjang tahun. Budidaya kedondong ini juga tidak terlalu sulit.

 

Tulen Solahudin, pengelola pengelola usaha Pohon Buah Nursery asal Bogor bilang, budidaya kedondong bangkok akan maksimal di daerah dataran rendah dengan suhu sekitar 30 derajat celsius.

Tanaman ini juga butuh asupan sinar matahari yang cukup dengan curah hujan sedang. Bibit kedondong bangkok bisa dikembangkan dengan teknik cangkok, okulasi, maupun stek. Tulen sendiri memilih teknik cangkok.

 

Menurut Tulen bibit cangkok cocok dityanam di pot. "Kalau ditanam di pot tumbuhnya lebih cepat karena akarnya tidak kemana-mana. Satu tahun saja sudah mulai muncul buah jika perawatannya bagus," ujar Tulen.

Pembudidaya lainnya, Edy Sumulur, pemilik PT Pusaka Alam Lestari asal Pasuruan, Jawa Timur lebih memillih membudidayakan dengan cara vegetatif buatan, yakni penempelan batang atau yang biasa disebut okulasi.

 

Untuk batang bawah biasa digunakan kedondong biasa. Setelah enam bulan, baru dilakukan okulasi menggunakan plastik sebagai perekatnya dengan batang pohon kedondong bangkok. “Yang paling baik itu memakai batang kedondong bangkok dari daerah asalnya Thailand,” ujar Edy.

 

Mata tempel akan tumbuh setelah okulasi berjalan enam bulan. Setelah itu batang bawah bisa dipotong dan bibit kedondong bangkok siap dipindahkan ke pot. Selama proses itu membutuhkan waktu sekitar setahun. Enam bulan kemudian, kedondong bangkok akan berbuah dengan sendirinya tanpa perlu perawatan khusus.

 

Penyiraman cukup dilakukan dua kali sehari. Menurut Tulen, jika dirawat dengan baik, kedondong bangkok memang bisa berbuah beberapa kali dalam setahun tanpa mengenal musim.

 

Namun, pohonnya harus sering dipangkas untuk merangsang pembuahan. Dengan dipangkas, pohon tidak terlalu besar, tapi batang yang menghasilkan buah tetap banyak.

 

Jika ditanam di lahan, jarak tanamnya dibuat sekitar 3 meter (m) x 3 m. Pohon yang ditanam di kebun akan lebih lama menghasilkan buah di awal pertumbuhan, yakni sekitar dua hingga tiga tahun setelah ditanam. Untuk perawatannya tidak jauh berbeda dengan pohon yang ditanam di pot. (Selesai)

http://www.kontan.co.id

Categories: None

Post a Comment

Oops!

Oops, you forgot something.

Oops!

The words you entered did not match the given text. Please try again.

Already a member? Sign In

0 Comments