" />

AGRIBISNIS

Awal Sukses Masa Depan Anda

@

Pembibitan sawit: Menyemai bibit laba di kebun bibit sawit

Posted on January 23, 2012 at 10:30 PM

Belakangan ini, minat masyarakat untuk berkebun sawit semakin tinggi. Banyak petani tergiur mengembangkan komoditas ini karena menjanjikan keuntungan lumayan besar. Tingginya minat masyarakat untuk bertanam sawit telah mengerek permintaan bibit sawit.

 

Dari sekian banyak varietas bibit kelapa sawit, bibit jenis topaz paling banyak permintaannya. Alhasil, bisnis bibit sawit topaz kian menjanjikan. Sudah banyak kok yang sukses menjalani bisnis ini.

 

Contohnya, Heru Azliyen, petani bibit sawit topaz di Kampar, Riau. Di bawah bendera Usaha Sepakat Mandiri Grup, Heru berhasil meraup omzet tebal dari ceruk pasar usaha ini. Dalam sebulan, omzetnya bisa mencapai Rp 40 juta. Laba bersih yang masuk ke kantongnya lumayan besar. Ia hanya perlu merogoh biaya pembelian benih Rp 5.000 per kecambah.

 

Setelah disemai dan memasuki usia tiga bulan, sawit topaz sudah bisa dijual seharga Rp 15.000 per batang. Namun, Heru memilih menjual bibit saat sudah menginjak usia 12 bulan. Sebab, harganya bisa lebih mahal.

 

Ketika sudah berumur setahun, harga bibit sawit topaz bisa mencapai Rp 50.000 per batang. Dari harga tersebut, Heru mengaku mendapatkan untung sekitar Rp 15.000 per batang. "Permintaan terhadap bibit sawit topaz semakin melonjak akhir-akhir ini," ujar Heru yang merintis bisnis sejak 2004.

 

Selama ini, Heru membeli benih bibit sawit topaz dari perusahaan perkebunan sawit yang ada di daerah Riau. Oleh Heru, benih tersebut disemai di lahan miliknya seluas 5 hektare. Di lahan seluas itu, ia bisa menyemai hingga 10.000 kecambah.

 

Dari benih sebanyak itu, Heru bisa menjual rata-rata sekitar 8.000 batang bibit sawit per bulan. Bibit sawit topaz digemari karena lebih unggul dibanding bibit jenis lain. Bibit sawit topaz ini dapat bertahan dari serangan hama dan hanya sedikit yang layu selama pembibitan.

 

Selain itu, sawit topaz juga mampu berbuah lebih cepat dibanding sawit jenis lainnya. Menurut Heru, sawit topaz sudah mulai berbuah saat berusia 2,5 tahun. "Sementara sawit lain, biasanya baru berbuah setelah berusia lima tahun," ujar Heru.

 

Selain dapat dipanen lebih cepat, sawit topaz juga menghasilkan buah yang lebih banyak dibandingkan sawit lain. Dalam satu hektare (ha), sawit topaz dapat menghasilkan 2 ton buah sawit per bulan. Sementara jenis biasa hanya sekitar 800 kilogram (kg) per satu ha per bulan.

 

Sawit topaz termasuk varietas unggul saat ini. Jenis ini merupakan varietas hasil penelitian bibit.

 

Selama ini, Heru lebih banyak memasarkan bibit ke para petani sawit di Kampar. Soalnya, di daerah itu, sebagian besar masyarakatnya adalah petani sawit. Perputaran uang dalam menjalani bisnis ini juga terbilang cepat.

 

Sebab, umur tiga bulan, bibit sudah bisa dijual. Selain petani pemula, permintaan juga datang dari para petani yang melakukan peremajaan tanaman sawitnya yang sudah memasuki usia 25 tahun.

 

Alhasil, permintaan terhadap bibit sawit pun semakin tinggi. "Petani di sini ramai-ramai menebang pohon sawit mereka yang sudah tua dan menggantikannya dengan bibit sawit topaz," jelas Heru.

 

 

Sawit marihat

 

Sukses berbisnis bibit sawit juga dirasakan Bunyamin Yakup, pembibit sawit dari daerah Duri, Riau. Berbeda dengan Heru, Bunyamin lebih memilih mengembangkan bibit sawit marihat asal Medan, Sumatra Utara.

 

Alasannya, harga bibit sawit marihat tergolong murah dibandingkan bibit sawit topaz. Saat ini, ia tengah menyemai 15.000 batang bibit marihat. Benih sawit marihat dibeli dengan harga Rp 3.000 per kecambah. Benih ini disemai selama kurun waktu satu tahun sampai dua tahun.

 

Jangka waktu penyemaian memang lebih lama dibanding sawit topaz. Setelah memasuki usia setahun, sawit ini dijual dengan harga sekitar Rp 16.000 per batang. Dari harga itu, ia bisa mendapatkan laba Rp 5.000 per batang.

Kelapa sawit masih menjadi komoditas andalan sebagai sumber devisa negara dari sektor non-migas. Tanaman asal Afrika itu kini banyak dibudidayakan di Indonesia. Kebetulan, sawit cocok dengan iklim tropis di Indonesia. Tak heran, permintaan bibit sawit terus meningkat.

 

Kendati iklim cocok, pembibitan sawit tetap membutuhkan perawatan intensif. Ada beberapa hal yang harus diperhatikan dalam mengembangkan tanaman sawit.

 

Heru Azliyen, petani bibit sawit varietas topaz di Kampar, Riau, mengatakan, bisnis pembibitan pohon kelapa sawit tidak susah. Yang jelas, jika ingin menjajal usaha ini, Anda mesti punya lahan untuk proses pembibitan. "Minimal butuh lahan sekitar satu hektare (ha)," kata Heru.

 

Setiap satu ha lahan bisa dipakai buat menyemai 13.000 bibit. Untuk pembibitan ini dibutuhkan lahan yang gembur, subur, datar, berdrainase baik serta memiliki lapisan solum yang dalam tanpa lapisan padas. Selain itu, cadangan air harus banyak.

 

Lahan yang ideal berada pada ketinggian antara 1.500 meter di atas permukaan laut (dpl). Bibit sawit juga membutuhkan penyinaran matahari rata-rata lima hingga tujuh jam setiap hari.

 

Sementara itu, curah hujan tahunan dibutuhkan sebanyak 2.000 milimeter (mm) sampai 2.500 mm. Sawit dapat tumbuh subur di daerah yang tidak tergenang air saat hujan dan tidak kekeringan saat kemarau. Adapun temperatur optimal mulai dari 24 derajat Celcius-26 derajat Celcius. Jika lahan sudah siap, carilah benih unggul. "Dengan memilih benih sawit unggul, untung bakal lebih cepat," ujar Heru.

 

Selama ini, Heru membeli benih bibit dari perusahaan perkebunan yang ada di daerah Riau. "Bibit dari perusahaan biasanya sudah teruji kualitasnya," ujar Heru.

 

 

Proses pembibitan

 

Namun, untuk mendapatkan kecambah bibit unggul, biasanya membutuhkan waktu cukup lama. Ambil contoh, memesan kecambah bibit sawit topaz harus mengantre enam bulan. "Banyak petani memesan kecambah topaz," jelas Heru. Kecambah itu dijual dengan harga mulai dari Rp 3.000-Rp 5.000 per biji.

 

Setelah mendapatkan kecambah unggul, petani harus melakukan pembibitan. Benih dimasukkan dalam polybag ukuran 10 x 15 centimeter (cm) dengan lubang perforasi. Bibit tersebut disiram pagi dan sore dan mendapat sinar matahari yang cukup. Setelah sebulan, biasanya sudah muncul satu daun. Maka, bibit itu harus dipindahkan ke polybag yang ukurannya lebih besar, yakni 42,5 cm x 50 cm dengan lubang drainase.

 

Bibit sawit tetap harus dirawat secara intensif setelah dipindahkan ke dalam polybag besar. Tujuannya, agar terhindar dari serangan hama. Serangan penyakit biasanya berupa bercak di daun yang disebabkan oleh jamur.

 

Hama yang menyerang biasanya serangga pemakan daun, semut, rayap, jangkrik, siput, dan tikus. Yang paling sering adalah semut. Sebab, dahan kelapa sawit yang masih kecil kerap dijadikan tempat bersarang. Ini bisa mengganggu pertumbuhan sawit dan membuat bibit cepat mati.

 

Petani juga perlu menjaga jarak antarbibit sawit. Jarak harus disesuaikan dengan perkembangan dahan sawit. Umumnya, ketika sawit mulai membesar, dahannya panjang dan melebar ke samping. Makanya, setelah sawit berumur tiga bulan beri jarak antar polybag 90 x 90 cm.

 

Namun, kalau masih satu bulan, jaraknya masih bisa sekitar 10 cm-20 cm. Khusus sawit topaz, saat berumur tiga bulan memiliki ketinggian rata-rata setengah meter. Jika sudah berumur delapan bulan hingga setahun memiliki ketinggian 1,5 meter-1,8 meter.

 

Bunyamin Yakup, pembibit sawit dari daerah Duri, Riau menambahkan, pemupukan bibit sawit dimulai setelah ditanam empat minggu lamanya. Biasanya bibit sawit itu sudah mulai mengeluarkan daun. Pada tahap ini sebaiknya gunakan pupuk NPK.

 

Bibit jenis marihat sudah dapat ditanam ketika berumur setahun. Dengan catatan, proses pembibitannya dilakukan secara benar dan mendapatkan air serta sinar matahari yang cukup.

 

(Selesai)

 

http://www.kontan.co.id

Categories: None

Post a Comment

Oops!

Oops, you forgot something.

Oops!

The words you entered did not match the given text. Please try again.

Already a member? Sign In

2 Comments

Reply debay
9:05 AM on December 27, 2013 
pak heru saya mau cari benih topaz,,,brp skarang harga/ biji
Reply asep
11:13 PM on June 15, 2012 
siip

PENGUNJUNG

combinedcombinedcombined

KAMPUS KEBANGSAAN


JURNAL AGROS

Jurnal Ilmiah Ilmu Pertanian "AGROS" merupakan jurnal yang diterbitkan oleh Penerbit Fakultas Pertanian. Untuk melihat lebih lengkap, silahkan klik gambar atau klik di sini)



No recent videos

Upcoming Events

No upcoming events