" />

AGRIBISNIS

Awal Sukses Masa Depan Anda

@

Kangkung cabut: Cara tanamnya mudah, hasil panennya melimpah

Posted on January 20, 2012 at 9:55 AM

Beragam olahan kangkung menjadi berkah bagi petani kangkung. Baik yang bergerak di sektor pembibitan maupun pembesaran. Permintaan bibit ini mencapai 4.000 ton per tahun. Tak heran, petani kangkung pun bisa meraup omzet puluhan hingga ratusan juta.

 

Banyak kudapan yang menggunakan kangkung sebagai bahan baku utama. Sebut saja pecel, sayur asam, atau plecing kangkung. Itulah sebabnya, kangkung bisa dibilang sebagai sayuran yang populer di masyarakat kita.

 

Tak heran, permintaan kangkung di Indonesia cukup tinggi. Hal ini bisa terlihat dari permintaan benih kangkung cabut, salah satu varian kangkung yang mampu tumbuh cepat.

 

Joko Patmono, Direktur PT Raja Pilar Agrotama, mengaku bahwa permintaan benih kangkung cabut cukup besar. Tiap bulan, Joko menjual tiga ton benih kangkung cabut. Hampir 80% bibit kangkung itu dia kirim ke petani kangkung di Jawa. Sisanya, Joko jual di seluruh Indonesia.

 

Raja Pilar menyediakan dua jenis bibit kangkung cabut. Yakni, jenis bambu leaf dan bangkok leaf. Jenis bambu leaf lebih disukai, karena daun dan batangnya ramping. Selain itu, warna daun lebih terang dan berserat halus.

 

Joko menjual benih bambu leaf Rp 40.000 per kilogram (kg). Sementara, bibit bangkok leaf, yang berdaun lebar dengan serat lebih kasar, dijual dengan harga Rp 30.000 per kg. "Bibit kangkung cabut bambu leaf memang lebih mahal karena banyak dicari," jelas Joko.

 

Dari usaha penjualan bibit kangkung ini, Joko bisa mendulang omzet lebih dari Rp 133 juta tiap bulan.

 

Potensi pasar kangkung memang besar. Joko bilang, permintaan bibit sayuran akuatik dari seluruh Indonesia mencapai 4.000 ton per tahun. "Dengan permintaan sebesar itu, potensi keuntungan pun masih terbuka lebar untuk usaha budidaya tanaman sayur ini," tandasnya.

 

Selain di Jawa, permintaan kangkung yang cukup tinggi juga terjadi di Kalimantan Timur. Hery Romadhon, Ketua Taruna Tani Syifa Herbal di Samarinda, Kalimantan Timur, juga menjual bibit kangkung cabut untuk memenuhi permintaan beberapa kelompok tani di wilayahnya.

 

Berbeda dengan Joko, Hery tak memproduksi bibit kangkung bangkok leaf secara massal. Kendati demikian, dari penjualan 500 kg benih ini, Hery bisa mendulang omzet Rp 25 juta tiap bulan dengan harga jual Rp 50.000 per kg.

 

Menurut Hery, kangkung cabut ini banyak dibudidayakan petani di Kalimantan karena harga jualnya yang tinggi. Selain itu, kualitas dan rasa kangkung ini lebih enak dibandingkan dengan kangkung biasa. "Masyarakat di sini menyukai kangkung cabut karena lebih empuk saat dimasak," tuturnya.

 

Apalagi, masa panen kangkung ini cukup singkat. Kangkung cabut bisa dipanen dalam waktu waktu 25 hari ketika sudah tumbuh setinggi 15 cm. "Dalam satu hektare lahan kangkung cabut, hasil panen petani bisa mencapai sekitar 15 ton per 25 hari," ujar Hery.

 

Selain bibit , Hery juga mengolah lahan kangkung cabut. Dari usahanya ini, ia bisa memanen hingga 12.000 ikat kangkung per bulan di area tanam yang hanya 625 m2. "Kangkung adalah tipikal tanaman ritasi yang bisa dipetik setiap hari jadi potensinya akan terus ada," jelas Hery.

 

Ia menjual kangkung ini Rp 1.000 per ikat. Dari panen kangkung cabut ini, Hery pun bisa menambah pundi-pundi uangnya Rp 12 juta per bulan.

Membudidayakan kangkung cabut tidak membutuhkan perawatan intensif. Jika pemupukan sesuai takaran dan tepat waktu, maka kangkung cabut bisa dipanen saat usia 25 hari. Tapi hati-hati dari serangan belalang yang bisa merusak daun kangkung.

 

Selain menguntungkan, budidaya kangkung cabut ternyata juga tidak merepotkan. Dari benih hingga panen, kangkung cabut tak perlu ada perawatan yang intensif.

 

Untuk menanam kangkung cabut dimulai dengan menyediakan lahan bertanah gembur. Setelah itu lahan ditaburi pupuk kandang. Untuk satu hektare lahan butuh 200 kilogram (kg) pupuk kandang. "Pupuk kandang adalah asupan terbaik bagi kangkung cabut," kata Joko Patmono, Direktur PT Raja Pilar Agrotama, perusahaan penyedia bibit kangkung di Yogyakarta.

 

Setelah memberikan pupuk, pembudidaya bisa menaburkan benih berupa biji kangkung cabut. Untuk satu hektare lahan memerlukan sedkitnya 12 kilogram (kg) benih.

 

Biasanya, toko penyedia bibit kangkung menjual benih kangkung dalam kemasan 1 kg yang berisikan sekitar 15.000 butir benih kangkung cabut. "Benih itu ditabur saat lahan dalam kondisi lembap, karena kangkung adalah jenis tanaman yang suka air," terang Joko.

 

Setelah tiga hari, benih kangkung itu akan berubah menjadi kecambah. Sampai dengan usia satu minggu, kecambah akan tumbuh setinggi 4 centimeter (cm). Saat usia satu minggu itulah saat yang tepat bagi pembudidaya melakukan pemupukan kedua. "Pemberian pupuk kedua bisa berupa pupuk urea minimal 500 kg untuk satu hektare," jelas Joko.

 

Menurut Joko, pemberian pupuk tahap dua berguna untuk menunjang pertumbuhan kangkung cabut. Tahap selanjutnya tanaman kangkung cabut tak perlu mendapatkan perhatian khusus, kecuali penyiraman air di waktu pagi, terutama saat musim kemarau. "Kalau musim hujan pembudidaya tidak perlu menyiramnya," ulas Joko.

 

Senada dengan Joko, Hery Romadhon yang Ketua Taruna Tani Syifa Herbal di Samarinda, Kalimantan Timur, bilang bahwa kangkung cabut adalah tanaman yang tidak mengenal musim dan bisa tumbuh di semua jenis tanah asalkan tanah itu dalam kondisi gembur.

 

Selain perawatan yang mudah, keunggulan kangkung cabut lainnya adalah tahan terhadap terpaan angin alias tidak mudah roboh.

 

Selain itu, kangkung cabut juga tidak punya banyak musuh hama penyakit. Hery bilang, musuh utama kangkung hanyalah belalang yang menyerang tanaman kangkung pada bagian daun. "Hama itu bisa diatasi dengan menyemprotkan pestisida," jelas Hery.

 

Menurut Hery, tingkat kegagalan panen kangkung cabut sangatlah rendah ketimbang sayuran lain. Asalkan mengikuti prosedur tanam dan pemberian pupuk tepat waktu, maka kangkung cabut berkualitas bisa dipanen saat usia 25 hari. "Kangkung cabut termasuk tanaman yang kuat, tetapi harus diawasi agar tumbuh baik," katanya.

 

Karena waktu usia panen bisa diprediksi membuat pasokan kangkung cabut selalu tersedia di pasaran.

 

Itulah sebabnya, banyak pemilik restoran, rumah makan, suka menyajikan menu kangkung cabut. Selain itu, pembudidaya bisa memasok ke supermarket. "Wajar jika kangkung cabut mahal karena peminatnya banyak," ujar Joko.

 

(Selesai)

http://www.kontan.co.id

 


Categories: None

Post a Comment

Oops!

Oops, you forgot something.

Oops!

The words you entered did not match the given text. Please try again.

Already a member? Sign In

0 Comments

PENGUNJUNG

combinedcombinedcombined

KAMPUS KEBANGSAAN


JURNAL AGROS

Jurnal Ilmiah Ilmu Pertanian "AGROS" merupakan jurnal yang diterbitkan oleh Penerbit Fakultas Pertanian. Untuk melihat lebih lengkap, silahkan klik gambar atau klik di sini)



No recent videos

Upcoming Events

No upcoming events