" />

AGRIBISNIS

Awal Sukses Masa Depan Anda

@


FAKULTAS PERTANIAN

UNIVERSITAS JANABADRA

Jln. Tentara Rakyat Mataram 55-57 Yogyakarta 55231- INDONESIA

Tel. (0274) 561039 Fax. (0274) 517251 

view:  full / summary

fIGURE

Posted on April 16, 2014 at 11:45 AM Comments comments (0)

BUDIDAYA SIKAS NAGA Cantik peluang budidaya tanaman purba

Posted on October 12, 2013 at 11:30 AM Comments comments (2)

Para pecinta tanaman hias tentu tak asing dengan sikas naga. Tanaman bernama latin Cycas affinity rumphii ini mirip pakis. Daunnya yang berwarna hijau menyerupai bulu, tumbuh mengarah ke luar dari batang. Adapun, bentuk batangnya unik, karena ditutupi sisik-sisik berwarna cokelat, layaknya sisik naga. Makanya, di Indonesia, tanaman ini biasa disebut Sikas Naga.

 

Karena keelokan dan keunikan rupanya, banyak pecinta tanaman yang berburu sikas naga. Namun, karena termasuk tanaman purba, stok sikas naga tak banyak tersedia di pasaran. Maklum, budidayanya tak mudah. Keindahan tanaman ini terbentuk dari terpaan alam. Meski begitu, ada yang sudah mulai membudidayakan sikas naga.

Salah satunya, Andi Marthen, pemilik Belantara Nursery di Bogor, Jawa Barat. Ia sudah membudidayakan sikas naga sejak 2008. Menurutnya, permintaan sikas naga cukup tinggi. Awalnya, ia mengambil sikas naga dari habitat aslinya di Pulau Lihukang, Sulawesi Selatan. "Saya ambil sekitar 100 pohon, lalu dibudidayakan di Bogor," tuturnya.

 

Pria 41 tahun ini mengklaim, pohon sikas naga yang diambil dari Pulau Lihukang sudah berusia lebih dari 100 tahun. Ukurannya sekitar satu meter. Namun harganya bisa sampai Rp 10 juta.

 

Nah, untuk memperbanyak tanaman, Andi mengembangbiakkan melalui biji. Saat sikas naga berumur 100 tahun, tanaman ini mulai berbuah. Dari buahnya bisa diambil biji untuk ditanam, sehingga menghasilkan bibit. "Karena sekarang indukan tinggal dua pohon, saya hanya jual bibit," ujarnya.

 

Andi menjual bibit sikas naga setinggi 5 cm-7 cm berkisar antara Rp 500.000-Rp 700.000 per bibit. Ia mengaku, kewalahan memenuhi permintaan. Pasalnya, siklus pertumbuhan sikas naga tergolong lambat. Dalam setahun, tanaman ini hanya bisa tumbuh sekitar 1 centimeter (cm).

Ia dapat menjual 15 - 20 bibit sikas per bulan. Omzetnya mencapai Rp 12 juta sebulan.

 

Penjual sikas naga di Indramayu, Dedy Soedarmanto menilai, tanaman ini digemari lantaran bentuknya bagus dan eksotik.

 

Pemilik Wijaya Puspana Flowers ini biasa mengambil sikas naga dari kawasan Kuningan, Jawa barat. Sebelum dijual, ia merawatnya lebih dulu. Sebab, semakin unik bentuknya, dan semakin besar, otomatis semakin tinggi harga jualnya.

 

Biasanya, Dedy melego tanaman ini saat sudah mencapai tinggi 1 meter hingga 1,5 meter. Harganya berkisar Rp 3 juta hingga Rp 6 juta per pohon.

Namun, karena pertumbuhannya lambat, Dedy terkendala pasokan. Dalam setahun ia hanya bisa melego 15 pohon, dengan omzet sekitar Rp 45 juta-Rp 90 juta per tahun. Namun, laba bersihnya lebih dari 50%.

Sikas naga tergolong tanaman yang bandel. Tanaman bernama latin Cycas affinity rumphii ini relatif tahan di berbagai cuaca dan tak butuh perawatan terlalu banyak.

 

Meski pun habitat aslinya dari daerah pantai, sikas naga juga berkembang baik di daerah dataran tinggi. "Saya pernah menanam sikas naga di Bandung, hasilnya juga tetap bagus," kata Andi Marthen (41), pemilik Belantara Nursery di Bogor, Jawa Barat.

 

Hal tersebut dibenarkan Dedy Soedarmanto, pemilik Wijaya Puspana Flower di Indramayu, Jawa Barat. Menurutnya, sikas naga tergolong tanaman yang mudah beradaptasi dengan berbagai jenis lingkungan dan kondisi cuaca. "Tanaman ini tidak rewel dan kemampuan beradaptasinya tinggi," ujar Dedy.

 

Satu saja kelemahannya, yakni masa pertumbuhannya yang sangat lambat. Dalam satu tahun, tanaman ini hanya bisa tumbuh sekitar 1 centimeter (cm). Itu juga yang membuat stok tanaman ini terbatas di pasaran.

 

Perbanyakan tanaman sikas naga bisa dilakukan dari biji. Andi bilang, ukuran biji sikas naga sebesar kelereng. Setelah biji disemai dan daun mulai tumbuh, bibit dipindah ke media tanam. "Medianya merupakan campuran tanah dan pupuk kandang, dan media tanam jangan kena air," ujarnya.

 

Jika bukan dikembangkan dari biji, misalnya mengambil dari alam aslinya dan dipindahkan ke lingkungan yang berbeda, memang perlu perlakuan masa adaptasi. Tujuannya agar bisa menyesuaikan dengan iklim baru.

 

Dedy mengaku, kerap mengambil sikas naga dari kawasan Kuningan, Jawa Barat dengan lingkungan berkapur. Setelah dibawa ke wilayah Indramayu, sikas naga perlu adaptasi selama satu hingga dua minggu. "Jika baru diambil dari alam, kami melakukan masa adaptasi dengan membuat media tanam yang menyerupai dengan kondisi tanah di alam aslinya," ujar Dedy.

 

Caranya, dengan menaruh pohon sikas pada media khusus, yakni sebuah karung dengan media tanah dicampur kandungan kapur cukup tinggi. Di media tanam buatan itu, tanaman dibiarkan sampai muncul tunas dan akar. "Itu berarti dia sudah bisa beradaptasi di lingkungan baru," jelas Dedy.

 

Meski tahan terhadap segala cuaca, sikas naga jauh lebih baik ditanam di tempat daerah dataran rendah dengan iklim kering. Sikas naga juga tidak boleh terkena terik matahari langsung. Pasalnya, sinar matahari bisa menghambat pertumbuhan tanaman purba ini.

 

Makanya, disarankan menanam sikas di tempat terlindung. Untuk perawatan, bisa diberikan pupuk tiga bulan sekali. Untuk penyiraman tidak perlu dilakukan setiap hari. "Cukup tiga hari sekali," ujarnya. (Selesai) http://www.kontan.co.id


BUDIDAYA BEACH CHERRY Manis di lidah, cantik pula menjadi tabulampot

Posted on October 11, 2013 at 11:45 PM Comments comments (1)

Beberapa tahun terakhir, tanaman buah dalam pot (tabulampot) menjadi tren di kalangan pecinta tanaman di tanah air. Salah satu yang banyak dilirik sebagai tanaman buah dalam pot (tabulampot), yakni beach cherry. Tanaman asal Australia ini dibawa ke Indonesia sejak 1996. Namun, baru mulai populer dalam 10 tahun terakhir. Pembudidayaannya mudah dan cukup menguntungkan.

 

Salah seorang pembudidaya tanaman bernama latin Eugenia reinwardtiana ini adalah Parta Suhanda. Pemilik Angel Nursery ini mulai membudidayakan beach cherry sejak tahun 2008 di Bogor, Jawa Barat.

 

Menurutnya, meski berasal dari Australia, beach cherry gampang tumbuh di Indonesia. "Tanaman ini berasal dari Australia bagian utara yang udaranya tropis, jadi kalau ditanam di Indonesia, tanaman ini tidak butuh waktu lama untuk beradaptasi," paparnya.

 

Awalnya, Parta menanam dari biji beach cherry. Kini, dalam sebulan, ia bisa menjual hampir seratus bibit beach cherry. Ia mengaku sudah menjual bibit tanaman ini ke seluruh pelosok Indonesia, kecuali Papua.

 

Satu bibit yang belum berbuah dibanderol seharga Rp 50.000. Sementara, harga pohon yang sudah berbuah, minimal Rp 125.000. Wajar saja kalau ia bisa mengantongi omzet belasan juta rupiah tiap bulan.

 

Namun, Parta bilang, selama ini, buah beach cherry belum dijual secara komersial. Padahal buahnya sangat manis, tidak seperti kerabatnya, barbados cherry yang agak masam.

 

Potensi beach cherry untuk dijadikan tanaman kebun juga sangat terbuka. Pasalnya, selain untuk dikonsumsi langsung atau dibuat jus, buah ini bisa jadi penguat rasa permen, karena rasanya manis.

 

Rana Wijaya, pembudidaya beach cherry di Bogor bilang, tanaman ini bagus dijadikan tabulampot, lantaran berupa perdu yang saat berbuah sangat rimbun dengan warna merah menyala. "Tanaman ini bisa berbuah terus menerus sepanjang tahun, jika dirawat dengan benar," ungkapnya.

 

Pria yang akrab disapa Rana ini membudidayakan tanaman beach cherry sejak 2011 di lahan seluas 5.000 meter persegi. Awalnya, bibit tanaman berupa hasil cangkok induk berasal dari petani di Malang. Dari induk itulah ia berhasil memperbanyak menjadi ratusan bibit.

 

Ia menjual satu bibit beach cherry sekitar Rp 75.000. Dalam sehari, ia bisa melepas satu hingga dua bibit. Namun, tak jarang, ada pula yang memesan dalam jumlah puluhan. Permintaan cukup bagus, lantaran Rana rajin berpromosi lewat internet.

 

Menurut Rana, pesanan paling banyak masih datang dari sekitar Pulau Jawa. Meski tidak pasti, namun ia bilang, setidaknya bisa meraup omzet Rp 11 juta sebulan. Keuntungannya mencapai 65%. 

Beach cherry merupakan jenis tanaman buah yang dapat dijadikan tanaman buah dalam pot (tabulampot). Sebagai tabulampot, beach cherry dapat mempercantik pekarangan rumah. Bukan saja berfungsi sebagai tanaman hias, buah beach cherry juga bisa diolah menjadi minuman jus. Karena berbagai kelebihannya itu, banyak orang tertarik membudidayakan tanaman jenis ini.

 

Ada sejumlah hal yang perlu diketahui untuk melakukan budidaya tanaman ini. Pertama-tama tentu saja mengenai bibitnya. Parta Suhanda, salah seorang pembudidaya beach cherry di Bogor, Jawa Barat mengatakan, beach cherry bisa dikembangkan dari biji.

 

Setelah biji disemai, dalam waktu satu hingga dua minggu akan keluar tunas. "Setelah usia bibit mencapai satu hingga dua bulan bisa dipindah ke polybag," ujarnya.

 

Bibit harus diberi pupuk kandang. Ketika ukurannya sudah mencapai 30 centimeter (cm), tanaman sudah bisa dipindahkan ke dalam pot. Butuh waktu dua hingga tiga tahun tanaman ini bisa berbuah. "Ketika ukuran 50 cm, beach cherry sudah berbuah dan tanaman ini panen sepanjang tahun, selalu ada buahnya," katanya.

 

Karena ditanam di dalam pot, beach cherry tidak butuh lahan luas. Misalnya, untuk 100 pohon beach cherry, Parta hanya butuh lahan 10 meter. Namun, tanaman ini harus disiram setiap hari. Bahkan, semakin sering disiram hasilnya lebih bagus.

 

Rana, pembudidaya lainnya mengatakan, budidaya beach cherry tidak cukup diberikan pupuk kandang sebagai sumber nutrisi. Menurutnya, untuk mendapatkan hasil yang maksimal diperlukan pupuk kimia NPK, yaitu pupuk buatan yang mengandung unsur hara utama nitrogen, fosfor dan kalium. "Itu paling umum dalam perawatannya, untuk tanah apapun bisa," ungkapnya.

 

Selain itu, pemberian pupuk sekam ayam juga harus rutin dilakukan selama jangka waktu tiga bulan. Itu dilakukan agar tanaman beach cherry tidak mudah terserang penyakit. "Harga satu karung pupuk cuma Rp 5.000, pemakaian pupuk intensif selama tiga bulan, selebihnya disemprot pakai pestisida," katanya.

 

Selain lewat biji, tanaman ini juga bisa diperbanyak dengan teknik sambung susu. Rana bilang, tanaman yang dikembangkan dari biji lebih lama berbuah. "Baru buah saat berumur dua tahun bahkan lebih," ujarnya.

 

Sedangkan dengan sambung susu sudah berbuah dalam waktu 2,5 bulan. Teknik ini menggunakan batang bawah yang berasal dari biji beach cherry. Batang bawah itu disayat dengan diameter 3 cm-4 cm.

 

Setelah dilakukan sambung susu, tarus tanaman ditempat yang teduh kurang lebih dua minggu dengan mengganti pot yang lebih besar. (Selesai) http://www.kontan.co.id


BUDIDAYA ULAT HONGKONG Bisa berkembang maksimal pada suhu dingin (2)

Posted on October 11, 2013 at 11:35 PM Comments comments (1)

Budidaya ulat hongkong tidak begitu rumit. Asal lokasinya cocok dan pakannya mencukupi, ternak ulat ini sudah bisa dipanen dalam waktu sekitar tiga bulan.

 

Karena masa panennya cepat, banyak orang tertarik membudidayakan ulat hongkong. Namun, peternak kerap terkendala pemilihan lokasi yang kurang pas buat budidaya. Pasalnya, ulat ini hanya cocok dikembangkan di daerah dataran tinggi dengan ketinggian sekitar 700 meter di atas permukaan laut (mdpl).

 

Hari Wibowo, peternak ulat hongkong di Wajak, Jawa Timur mengatakan, ulat hongkong berkembang dengan maksimal jika diternakkan pada suhu 28 hingga 31 derajat celcius.

 

Makanya, tidak semua daerah di Indonesia cocok untuk beternak ulat hongkong. “Sebenarnya ada juga yang beternak ulat hongkong di Bandung, Cilacap, dan Solo tapi biaya produksi lebih tinggi karena mereka harus menyesuaikan kandang dengan suhu dataran tinggi,” ujarnya.

 

Selain suhu, pemberian pakan juga perlu diperhatikan. Hari sendiri memberi pakan berupa kulit gandum atau pollard yang sudah dicampur dengan ampas tahu dan sayuran, seperti pepaya muda dan labu.

 

Pakan pollard ini banyak dijual di pasaran seharga Rp 150.000 per sak dengan bobot mencapai 50 kilogram (kg). Dalam sebulan, ia bisa menghabiskan 20 sak pakan untuk kebutuhan empat kandang miliknya.

 

Supaya maksimal, kotak penyimpanan serangga penghasil ulat hongkong juga harus diperhatikan. Dalam satu kotak, tidak boleh diisi lebih dari 3 kg seranggga. “Kalau lebih dari itu, serangga susah bertelur dan hasilnya tidak maksimal,” imbuhnya.

 

Serangga yang bernama latin tenebrio molitor ini butuh waktu tiga hingga 3,5 bulan untuk bertelur. Serangga ini bisa bertelur hingga empat kali sebelum mati. Untuk serangga yang masuk kategori bibit unggulan, bisa bertelur lima kali.

 

Jefri, peternak ulat hongkong di Malang, Jawa Timur bilang, budidaya ulat hongkong tidak memerlukan tempat yang luas. Pemeliharaan serangga biasanya hanya menggunakan kayu kotak berukuran 60 centimeter (cm) x 40 cm. "Di dalam kotak itu dimasukan serangga, lalu serangga bertelur menghasilkan 200 sampai 300 butir telur," paparnya.

 

Siklus hidup ulat hongkong ada empat tahap. Yakni, serangga bertelur kemudian telur menjadi larva. Larva serangga inilah yang disebut ulat hongkong. Bila dibiarkan, larva berubah menjadi kepompong selama tujuh hari dan kemudian kembali menjadi serangga.

Selain pakan pokok, perlu juga diberikan pakan suplemen berupa sayuran dan buah. (Selesai) http://www.kontan.co.id

BUDIDAYA KEDONDONG BANGKOK Meski ukuran mini, labanya tetap maksi

Posted on October 11, 2013 at 11:30 PM Comments comments (0)

Banyak orang tentu sudah mengenal buah kedondong. Maklumlah, sejak lama buah yang rasanya asam ini diolah menjadi aneka panganan, seperti rujak, manisan dan asinan.

 

Tak heran, tanaman buah yang tergolong dalam suku mangga-manggaan (Anacardiaceae) ini populer di Indonesia. Sebagai tanaman tropis, kedondong juga banyak ditemukan di berbagai daerah di Indonesia.

 

Seperti buah lainnya, kedondong juga memiliki banyak varian. Salah satunya adalah kedondong bangkok yang merupakan varietas unggul tanaman kedondong. Buah kedondong bangkok memiliki daging lebih tebal dan bijinya tidak berserat. Sementara ukuran buahnya lebih kecil dari kedondong biasa.

Kedondong jenis ini cocok juga ditanam di pot sebagai tanaman hias. "Biji buah kedondong bengkok tidak berserat sehingga lebih dipilih untuk bahan makanan," kata Tulen Solahuddin, pengelola usaha Pohon Buah Nursery asal Bogor, Jawa Barat.

 

Tulen membudidayakan kedondong bangkok selama dua tahun terakhir di atas lahan seluas 7.000 meter persegi (m²). Meski buah kedondong bangkok banyak peminatnya, Tulen lebih memilih fokus menjual bibit. Menurutnya, permintaan bibit kedondong bangkok juga tinggi di pasaran. "Kebanyakan buat tanaman hias" katanya.

Jika ditanam di pot dan rajin dipangkas, kedondong bangkok tidak tumbuh terlalu tinggi seperti tanaman kedondong pada umumnya.

 

Selain buahnya punya banyak kelebihan, kedondong bangkok juga menarik dijadikan tanaman hias karena bentuk daun dan batangnya lebih lebar, sehingga terkesan lebih unik.

 

Tulen memasarkan bibit kedondong bangkok dengan ketinggian 60 centimeter (cm). Harganya dibanderol Rp 50.000 per batang. Dalam sebulan, ia bisa menjual sebanyak 200 - 300 bibit kedondong bangkok, dengan omzet mencapai Rp 10 juta - Rp 15 juta. Konsumennya tersebar mulai dari Surabaya, Banda Aceh, dan Kalimantan.

 

Pembudidaya lainnya adalah Edy Sumulur, pemilik PT Pusaka Alam Lestari asal Pasuruan, Jawa Timur. Sama dengan Tulen, ia juga fokus menjual bibit. Menurutnya, kedondong bangkok tergolong tanaman hias. Makanya, kata dia, potensi bisnis kedondong bangkok bukan berasal dari buahnya. "Tapi dari bibit pohonnya," ujarnya.

 

Menurutnya, kedondong ini cocok dijadikan tanaman hias karena ukuran buahnya kecil. Menariknya lagi, tanaman ini bisa berbuah sepanjang tahun. “Tanaman mulai berbuah saat berumur enam bulan,” ucapnya.

 

Ia menjual bibit kedondong seharga Rp 75.000 - Rp 100.000 per batang. Omzetnya dalam sebulan mencapai Rp 20 juta.

Budidaya kedondong bangkok bisa dilakukan di pot maupun langsung di tanam di tanah. Bila dijadikan tanaman hias, banyak orang memilih pot sebagai media tanam. Selama pertumbuhannya di pot, tanaman ini harus rajin dipangkas supaya tidak terlalu tinggi.

 

Baik ditanam di pot maupun perkebunan, kedondong bangkok tetap rutin berbuah sepanjang tahun. Budidaya kedondong ini juga tidak terlalu sulit.

 

Tulen Solahudin, pengelola pengelola usaha Pohon Buah Nursery asal Bogor bilang, budidaya kedondong bangkok akan maksimal di daerah dataran rendah dengan suhu sekitar 30 derajat celsius.

Tanaman ini juga butuh asupan sinar matahari yang cukup dengan curah hujan sedang. Bibit kedondong bangkok bisa dikembangkan dengan teknik cangkok, okulasi, maupun stek. Tulen sendiri memilih teknik cangkok.

 

Menurut Tulen bibit cangkok cocok dityanam di pot. "Kalau ditanam di pot tumbuhnya lebih cepat karena akarnya tidak kemana-mana. Satu tahun saja sudah mulai muncul buah jika perawatannya bagus," ujar Tulen.

Pembudidaya lainnya, Edy Sumulur, pemilik PT Pusaka Alam Lestari asal Pasuruan, Jawa Timur lebih memillih membudidayakan dengan cara vegetatif buatan, yakni penempelan batang atau yang biasa disebut okulasi.

 

Untuk batang bawah biasa digunakan kedondong biasa. Setelah enam bulan, baru dilakukan okulasi menggunakan plastik sebagai perekatnya dengan batang pohon kedondong bangkok. “Yang paling baik itu memakai batang kedondong bangkok dari daerah asalnya Thailand,” ujar Edy.

 

Mata tempel akan tumbuh setelah okulasi berjalan enam bulan. Setelah itu batang bawah bisa dipotong dan bibit kedondong bangkok siap dipindahkan ke pot. Selama proses itu membutuhkan waktu sekitar setahun. Enam bulan kemudian, kedondong bangkok akan berbuah dengan sendirinya tanpa perlu perawatan khusus.

 

Penyiraman cukup dilakukan dua kali sehari. Menurut Tulen, jika dirawat dengan baik, kedondong bangkok memang bisa berbuah beberapa kali dalam setahun tanpa mengenal musim.

 

Namun, pohonnya harus sering dipangkas untuk merangsang pembuahan. Dengan dipangkas, pohon tidak terlalu besar, tapi batang yang menghasilkan buah tetap banyak.

 

Jika ditanam di lahan, jarak tanamnya dibuat sekitar 3 meter (m) x 3 m. Pohon yang ditanam di kebun akan lebih lama menghasilkan buah di awal pertumbuhan, yakni sekitar dua hingga tiga tahun setelah ditanam. Untuk perawatannya tidak jauh berbeda dengan pohon yang ditanam di pot. (Selesai)

http://www.kontan.co.id

Chokanan bisa dipanen tiga kali dalam setahun (2)

Posted on October 11, 2013 at 10:00 AM Comments comments (1)

Beberapa tahun terakhir, mulai banyak yang melirik budidaya mangga chokanan. Selain karena keunggulan rasa dan warnanya, budidaya mangga asal Thailand ini relatif mudah.

 

Kepala Pemasaran Sentra Tani Bogor Deni Hadian menyebut, budidaya chokanan sama seperti mangga jenis lain. “Jenis mangga apapun sama budidayanya, termasuk chokanan,” ungkapnya.

 

Bibit mangga chokanan dibudidayakan dengan teknik penyambungan atau okulasi. Pada teknik penyambungan, batang bawah bisa menggunakan batang mangga lokal yang terkenal lebih kuat ketimbang batang chokanan. Batang atas, adalah jenis chokanan.

 

Penanaman batang hasil penyambungan sebaiknya diberi jarak antar tanaman sekitar 5 - 6 meter. Jarak antar pohon harus diperhatikan untuk mengatasi lebatnya daun. Ini agar sirkulasi udara dan cahaya tiap pohon tetap terjaga.

 

Mangga chokanan akan mulai belajar berbuah setelah berumur 3 bulan - 4 bulan setelah penyambungan.

 

Lantaran, mangga ini bersifat tanaman buah dalam pot (tambulapot), teknik budidayanya tidak rumit. Penyiraman, cukup dua kali dalam sehari. Bahkan, jika musim hujan, tanaman tidak perlu disiram. "Pemberian pupuk kandang rutin sekali dalam enam bulan. Ini terus dilakukan meskipun pohonnya sudah besar. Untuk pupuk kimia pemakaiannya 3 bulan sekali,” papar Deni.

 

Seperti mangga pada umumnya, chokanan akan berbuah pada Oktober -Januari. Namun, karena bersifat genjah (cepat berbuah), chokanan bisa berbuah hingga tiga kali dalam setahun. Pohon berumur dua tahun bisa menghasilkan 20 kilogram (kg) sekali panen.

 

Pembudidaya lainnya di Bogor, Syahriel M. Said lebih sering menggunakan teknik okulasi atau penempelan mata tunas untuk memperbanyak tanaman. Menurutnya, teknik okulasi lebih menguntungkan. "Okulasi itu kan satu batang bisa beberapa mata tempel, hasilnya bisa lebih banyak dibanding sistem sambung," ujarnya.

 

Pemilik Indrapuri Agro ini bilang, proses pembibitan sistem okulasi berlangsung selama 6 - 9 bulan, hingga bibit mencapai tinggi 50 cm - 70 cm. Secara umum, mangga ini lebih baik ditanam di lokasi dataran rendah.

 

Kata Syahriel, jika ingin tanaman ini panen dua hingga tiga kali dalam setahun, perlu perawatan khusus. "Kandungan pupuk yang digunakan harus banyak mengandung fosfor dan asam amino," ungkapnya.

 

Jika membudidayakan dalam pot, ia menyarankan, media tanaman harus rutin diganti, serta memangkas akar. Dalam tempo dua atau tiga tahun sekali, tanaman dikeluarkan, sebagian akarnya dipotong, lalu tanah dan pupuknya diganti, barulah ditanam kembali. (Selesai)

http://www.kontan.co.id

Menumbuhkan cuan dari bibit mangga chokanan (1)

Posted on October 6, 2013 at 9:50 AM Comments comments (0)

Mangga chauk anan atau chokanan merupakan salah satu varietas mangga asli Thailand. Di Indonesia, mangga jenis ini belum begitu populer. Namun demikian, mangga ini tetap prospek dikembangkan di Indonesia.

 

Ciri khas ini buah mangga ini kulitnya berwarna kuning jika sudah matang. Dengan warna terbuat, tampilan buah mangga ini menjadi lebih menarik. Beda dengan mangga yang biasa tumbuh di Indonesia yang berkulit hijau.

 

Buah mangga chokanan konon sudah masuk ke Indonesia sejak 2005 silam. Namun demikian, Deni Hadian, Kepala Pemasaran Sentra Tani Bogor bilang, mangga chokanan baru mulai ramai dibudidayakan pada tahun 2008.

 

Kelebihan mangga chokanan cepat berbuah. "Dalam setahun ia bisa dua sampai tiga kali panen. Mangga jenis lain hanya satu kali pada akhir tahun," ujar Deni.

 

Keunggulan lainnya, daging mangga ini lebih tebal dengan biji yang kecil. Dari segi rasa, mangga chokanan juga tak kalah manis dari mangga pada umumnya.

 

Walau punya banyak kelebihan, mangga chokanan belum begitu banyak ditemui di pasaran. "Orang-orang masih dalam tahap budidaya, mungkin baru panen raya pada 2015. Mungkin saat itu, sudah mudah didapatkan di toko buah," tambah Deni.

 

Deni menjual bibit mangga chokanan seharga Rp 30.000 per bibit, dengan tinggi 50 centimeter (cm) - 70 cm. Dalam sebulan ia bisa menjual 100 bibit. Namun, jika sedang ramai pesanan, ia bisa menjual hingga 2.000 bibit mangga chokanan dalam sebulan. Adapun kisaran omzetnya dalam sebulan mulai dari Rp 3 juta hingga Rp 60 juta, tergantung jumlah pesanan.

 

Deni yakin, mangga chokanan akan banyak peminatnya di Indonesia. "Dari segi fisik mangga itu unik, rasanya manis dan budidaya tidak sulit," ujarnya.

 

Pemain lainnya adalah Syahriel M Said, pemilik Indrapuri Agro asal Bogor, Jawa barat. Syahriel mengaku, sudah membudidayakan bibit mangga ini sejak 2006.

 

Menurutnya, mangga chokanan sudah masuk ke Indonesia pada tahun 1990-an. "Tapi kala itu, baru di kalangan kolektor tanaman baru saja, belum untuk budidaya," ujar Syahriel.

 

Menurutnya, prospek mangga ini cukup bagus dikembangkan di Indonesia. Kata dia, di supermarket sudah banyak dijual mangga ini. "Tapi itu impor," ujarnya. Kata Syahriel, di Malaysia, mangga chokanan termasuk mangga yang paling disukai. Pasalnya, mangga ini rasanya enak dengan ukuran buah sedang, yakni 2,5 ons hingga 3 ons per buah.

 

Syahriel menjual bibit chokanan dengan harga Rp 30.000-Rp 50.000 per bibit, dengan tinggi 50 cm-70 cm. Setiap bulan ia menjual 100-500 bibit. "Saya sudah pernah jual dari Aceh sampai Merauke," ujarnya. (Bersambung)

http://www.kontan.co.id

TELAH DIBUKA KELAS SORE PRODI AGRIBISNIS

Posted on September 20, 2013 at 11:00 AM Comments comments (0)

DAFTAR SEGERA !!

(TEMPAT TERBATAS)

Kuliah Senin s/d Jum'at Pukul 15.00 - 22.00 WIB

 Waktu Pendaftaran: Setiap bulan Januari s/d September

Kuliah dimulai September

 

Persyaratan:

 

* Jalur Reguler: Fotokopi Ijazah SLTA/Surat Keterangan Lulus; Rapor Kelas XII Smt I dan II yang disahkan sekolah

 

* Alih jalur/ Transfer: Transkrip Nilai; Fotokopi Ijazah SLTA/Program Diploma; Surat Keterangan Pindah dari Perguruan Tinggi asal

 

* FotokopiAkte Kelahiran/Sirat Kenal Lahir

 

FASILITAS AKADEMIK:

 

* Free hotspot, e-journall e-jobsl e-learning

 

*Laboratorium dan Kebun Percobaan

 

* Ruang Referensi (Perpustakaan)

 

* Ruang Kuliah ber-AC, dilengkapi Perangkat Audio Visual

 

* Staf Pengajar bersertifikat dengan gelar Master dan Doktor

 

* Beasiswa: Yayasan Supersemar, Kemendiknas; BNI; BRI; BPD DIY, PPA, BBM, Yayasan Damandiri, dan Ikabadra

 

 

BIAYA KULIAH

 

* Pendaftaran Rp 200.000

 

* SPP Rp 300.000 per Bulan

 

* Her-registrasi dll Rp 150.000/smt

 

* Jas Almamater Rp 100.000

 

* Praktikum Rp 50.000 per semester

 

* Konversi Nilai bagi Mahasiswa transfer Rp 10.000 per SKS

 

* Ijin Cuti Rp 50.000 per semester

 

* Aktif Kembali bagi mahasiswa yang meninggalkan studi tanpa keterangan Rp 300.000

 

* Mengulang Mata kuliah Rp 50.000 per SKS

 

* Ujian Susulan dengan alasan apapun kecuali jadwal ujian yang bersamaan (sesuai dengan KRS) Rp 50.000 per mata kuliah

 

* KKN dan Skripsi sesuai tarif universitas

 

Untuk Kelas Reguler PAGI:

 

* Pembayaran satu kali, meliputi:

 

- Pendaftaran Rp 100.000

 

- Perpustakaan Rp 75.000

 

- Layanan SIA Rp 75.000

 

- Jas Almamater Rp 100.000

 

* Pembayaran per Semester:

 

- Kemahasiswaan Rp 50.000

 

- Her-registrasi Rp 50.000

 

- SPP Tetap Rp 550.000

 

- SPP Variabel per SKS Rp 60.000

 

* Sumbangan Tri Dharma: Besarannya Rp 1.500.000 s/d Rp 3.000.000 (tergantung nilai rata-rata rapor kelas XII, prestasi di bidang seni, olah raga, dan Iptek). Bagi calon mahasiswa dengan her-registrasi nomor urut 1 s/d 20 mendapat keringanan Tri Dharma Rp 1.000.000, kecuali jalur kerjasama dan transfer. Sumbangan dapat diangsur empat kali.

 

TEMPAT PENDAFTARAN:

 

* Kampus Pingit, Jln. Tentara Rakyat Mataram No 55-57 Yogyakarta, Tel. (0274) 561039 / 517251

 

* Kampus Timoho, Jln. Timoho II No. 40 Yogyakarta, Tel. (0274) 562716

 

* Kampus di Kulon Progo, Jln. Khudori 28 WATES, Tel. (0274) 773254

 

* Atau hubungi:

 

- Subeni, Ir, MS (HP 081-229-648-95)

 

- Kadarso, Ir, MS (HP 081-229-403-49)

BUDIDAYA ULAT HONGKONG (1) Budidayanya murah, panennya memberi fulus wah (1)

Posted on September 17, 2013 at 10:05 AM Comments comments (0)

Kebutuhan ulat hongkong untuk pakan hewan cukup besar. Sayangnya, budidaya ulat yang juga dikenal dengan sebutan meal worm ini masih terbatas. Mayoritas peternak ulat hongkong berdomisili di daerah Jawa Timur.

Hari Wibowo, peternak ulat hongkong di Wajak, Jawa Timur mengatakan, budidaya ulat hongkong masih terpusat di Jawa Timur saja. "Padahal peluang bisnis budidaya ulat hongkong sangat besar," katanya.

Menurut Hari, pemanfaatan ulat hongkong sebagai pakan hewan tertentu sudah dimulai sejak 2009. Pada saat itulah dia mulai membudidayakan ulat hongkong.

Hari menuturkan, ulat hongkong memiliki kandungan protein sekitar 62%. Dengan kandungan yang tinggi, ulat hongkong menjadi alternatif pakan yang disukai para peternak burung, udang windu, ikan koi, arowana, bahkan landak mini. "Hingga 70% produksi ulat hongkong kami dipakai untuk pakan burung, terutama burung kicau," kata dia.

Awalnya, Hari ingin mengekspor ulat hongkong. Pasalnya, kebutuhan ulat hongkong di luar negeri sangat tinggi. Bahkan, beberapa restoran di Eropa dan Amerika menyajikan menu ulat hongkong goreng.

Akan tetapi, karena dana terbatas, walaupun permintaannya sangat tinggi, produksi ulat hongkong Hari hanya bisa memenuhi permintaan di Jawa Timur dan Bali.

Hari memiliki empat kandang berukuran masing-masing 10 meter (m) x 20 m. Setiap kandang menampung sekitar 400 kotak yang terbuat dari papan.

Kotak-kotak tersebut diisi sekitar 3 kilogram (kg) ulat hongkong. Setiap kandang bisa menghasilkan hingga 100 kg ulat setiap panen.

Harga ulat ini dibanderol Rp 30.000 per kg. Dalam sebulan Hari bisa menjual sebanyak 8 ton dengan omzet mencapai Rp 240 juta. Adapun laba bersihnya bisa mencapai 70%.

Usaha budidaya ulat hongkong juga ditekuni Jefri di Malang, Jawa Timur. Ia memanfaatkan sebagian ruangan rumahnya sebagai tempat budidaya.

Aktivitas ini sudah ditekuninya sejak tahun 2007. "Cara budidayanya sederhana, tidak perlu tenaga dan modal yang besar karena yang diperlukan hanya ketelatenan," ungkapnya.

Untuk memulai usaha ini, cukup menyiapkan kandang dan bibit serangga. Menurut Jefri, ulat hongkong merupakan larva dari serangga yang bernama latin tenebrio molitor. Serangga ini merupakan hama pada biji-bijian atau serelia. "Saya bisa memproduksi 10 ton ulat hongkong setiap bulannya," kata Jefri.

Selama ini, Jefri memasarkan ulat hongkong ke sejumlah pedagang pengumpul (pengepul) di Malang, Jakarta, dan Kalimantan Timur. Ia mengaku, omzetnya dari usaha ini mencapai Rp 75 juta sebulan.

 

(Bersambung)


Suhu jadi kunci sukses budidaya shiitake (2)

Posted on September 13, 2013 at 11:55 AM Comments comments (0)

Jika sudah pernah membudidayakan jamur pangan, tentu tak sulit mengembangkan jamur shiitake. Budidaya shiitake pada dasarnya serupa dengan jamur pada umumnya.

 

Pebudidaya wajib menyediakan bibit jamur dan media tanam jamur berupa campuran dedak, serbuk gergaji, kapur, air, dan beberapa bahan tambahan lain. Setelah media tanam difermentasi, bibit disemprotkan ke dalamnya. Selanjutnya, tahap inkubasi supaya bibit segera ditumbuhi miselium. Jika miselium mulai tumbuh memenuhi permukaan baglog, jamur siap dibudidayakan di ruang kumbung jamur.

 

Namun, Taufik Urohman, pebudidaya asal Pabuwaran, Purwokerto menganjurkan, pebudidaya pemula sebaiknya membeli baglog yang sudah berisi bibit jamur shiitake. "Kalau membeli baglog berisi bibit berusia dua bulan, tinggal tunggu panen dengan waktu dua hingga tiga bulan," jelasnya. Risiko pun lebih minim. Jika berhasil, satu baglog bisa menghasilkan 250 kg jamur.

 

Supaya panen sukses, pembudidaya harus memperhatikan faktor suhu dan kelembaban. Pastikan kelembaban ruang penyimpanan baglog terjaga di kisaran 90%- 100%, mengacu pada alat ukur kelembaban ruangan. Supaya terjaga, bisa dengan lebih sering menyemprotkan air pada ruangan. Jika musim kemarau, intensitas penyemprotan harus ditingkatkan, supaya jamur tidak kekeringan.

 

Selain kelembaban, suhu pun harus dijaga. Pebudidaya shiitake di Bandung, Rial Aditya bilang, lokasi penanaman harus di dataran tinggi. "Ketinggian setidaknya 700 meter di atas permukaan laut, tapi idealnya di atas 1.000 meter," ujar pemilik Ganesha Mycosoft ini.

 

Suhu di dalam rumah jamur harus dijaga supaya tetap dingin, yaitu sekitar 20 - 22 derajat celsius. Rangsangan berupa suhu yang dingin dan air yang berlimpah akan mempercepat pertumbuhan tubuh jamur shiitake. Rial bilang, suhu rendah bisa diakali dengan menggunakan pendingin ruangan alias air conditioner (AC), namun biaya produksi jadi lebih mahal.

 

Menurut Rial, siklus panen shiitake lebih lama dibanding jamur pangan lainnya. Shiitake butuh waktu sekitar 6 bulan untuk masa pembudidayaan dari baglog hingga panen. Sedangkan, jamur lain seperti tiram hanya butuh waktu tiga bulan.

 

Untungnya, shiitake termasuk cukup tahan penyakit. Makanya, Rial tidak menemukan kendala berarti dalam usahanya. "Paling hanya siklusnya yang lama. Tapi, ini bikin saya tidak bisa memenuhi banyaknya permintaan pasar," klaimnya.

 

Kata Taufik, meski shiitake cukup tahan penyakit, namun sanitasi ruangan tempat budidaya harus dijaga. "Lingkungan kumbung harus bersih supaya shiitake bisa tumbuh baik," imbuhnya. (Selesai)

http://www.kontan.co.id


Rss_feed